Pagi ini; Jum’at 1 November 2013,
harumnya udara masih sempat kuhirup segar. Cercahan matahari tak terlalu panas
menyinari bumi, hingga aku mengira tak akan ada hujan di Jum’at pagi ini. Tak
seperti hari-hari sebelumnya, panas mentari tampak kuat menusuk tajam di
halaman madrasah kami; Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, kendatipun masih
pukul 06 pagi.
Sejak
pagi ini, pengurus PMR Putri sudah banyak yang tersibukkan dengan pembagian
tugasnya; mulai dari yang menyiapkan tempat apel, menata ruangan untuk rapat
hingga mencari konsumsi ke luar pondok. Memang, rencana pagi ini adalah rapat
kurikulum beserta penyampaian materi oleh para fasilitator.
Sejatinya, rancangan awal pengurus, rapat kurikulum diadakan pada hari Jum’at, 25 Oktober 2013, namun ternyata hari itu bersamaan dengan pelatihan para fasilitator di telaga Ngebel Ponorogo, sehingga rapat pun harus ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Namun demikian, beberapa hari setelah pelaksanaan pelatihan yang diadakan oleh PMI Ponorogo itu; tepatnya pada hari Senin, 28 Oktober 2013, ketua PMR beserta sekretaris berkonsultasi ulang kepada pihak PMI yang kebetulan bertemu langsung dengan ketua PMI sekaligus satu-satunya pelatih PMI Ponorogo yang biasa akrab disapa Pak Kadi. Menurut keterangan beliau, Insya Allah rapat kurikulum benar-benar dapat diadakan pada hari Jum’at, 01 Nopember 2013 bersamaan dengan masuk perdana para fasilitator.
***
Pukul
07.30 tepat rupanya seluruh peserta telah siap mengikuti apel pagi, tanpa satu
pun peserta yang datang terlambat. Sungguh, wujud suatu kesemangatan yang luar
biasa dalam menimba ilmu. Memang, sebelum masuk ruangan, agenda pagi ini adalah
apel yang bertempat di belakang gedung Marwah
. Ada
satu kendala yang sempat dilalui oleh para pengurus sesaat sebelum apel
dilaksanakan, yakni belum ditemukannya penyangga micropon untuk sambutan
pembina, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Namun demikian, setelah
daya upaya difungsikan, solusipun akhirnya ditemukan, yakni dengan meminjam
penyangga mic kepada pengurus OSIS putra MA Darul Huda.
Sementara
itu, dalam sambutannya, ibu pembina yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadzah
Eri Susanti menyampaikan bahwa, ilmu yang ada di PMR adalah ilmu yang sangat
dibutuhkan saat sudah terjun di lingkungan masyarakat nantinya, khususnya saat
terjadi musibah dadakan. Sebut saja diantaranya adalah saat ada musibah
kecelakaan dadakan, kebakaran, gempa bumi, tanah longsor dan lain sebagainya. Saat
terjadi musibah kecelakaan misalnya, seorang anggota PMR melalui ilmu yang
sudah dimilikinya akan tahu, bagaimana cara memberikan pertolongan pertama yang
tepat sebelum korban sampai ke tangan seorang ahli medis atau dokter. Tentu
saja, seandainya telah diketahui bahwa korban mengalami patah tulang, kemudian
penolong tidak mengerti tentang cara memberikan pertolongan pertama, korban
akan semakin berada dalam kondisi yang parah sebelum sampai ke tangan seorang
dokter. Sedari itu, beliau menghimbau kepada seluruh peserta untuk tidak hanya
setelangah hati dalam mengikuti kegiatan pelatihan PMR yang diadakan oleh
pengurus setiap 2 minggu sekali itu.
Pukul
07.30 tepat rupanya seluruh peserta telah siap mengikuti apel pagi, tanpa satu
pun peserta yang datang terlambat. Sungguh, wujud suatu kesemangatan yang luar
biasa dalam menimba ilmu. Memang, sebelum masuk ruangan, agenda pagi ini adalah
apel yang bertempat di belakang gedung Marwah
Tak berselang lama, akhirnya
rombongan fasilitator bersama bapak Sukadi tiba di tempat. Pengurus PMR yang
bertugas menanti kedatangan rombongan itu segera menunjukkan lokasi rapat yang
telah direncakan. Ada suatu kebanggaan tersendiri dari kegiatan PMR tahun ini,
yakni pengurus diberi izin untuk mengahadirkan fasilitator lebih dari 2 orang.
Adapun tahun lalu, fasilitator yang dapat dihadirkan hanya berjumlah 2 orang,
bahkan terkadang satu orang, padahal jumlah peserta sekitar 100 orang. Berbeda
jauh dengan tahun ini, yakni pengurus PMR putri sanggup mendatangkan 6
fasilitator sekaligus, sementara jumlah peserta adalah 171 orang. Jadi setiap
sekitar 30 orang dapat belajar dengan intensif kepada 1 orang fasilitator.
Terlbih, seluruh fasilitator yang dihadirkan tahun ini kesemuanya adalah
perempuan, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan, khususnya saat praktek, peserta
tidak akan canggung-canggung lantaran sesama perempuannya. Tentu saja berbeda
dengan tahun lalu yang semua failitator berjenis kelamin laki-laki. Berikut
nama-nama fasilitator yang telah menyatakan diri sanggup mendampingi pelatihan
PMR hingga setahun mendatang:
- Inna Yety Octavia
- Alif Fridayati
- Rizky Ekasari
- Surani Rusmiati
- Noor Faizatul Fitri
- Emy Silvia M.
Usai
para fasilitator berkumpul di ruangan bersama dengan para pengurus PMR Putri
beserta dewan pembina, agenda sarasehan singkatpun dimulai. Dalam sarasehan
itu, para fasilitator diperkenalkan dengan kondisi kegiatan di Pondok Pesantren
Dareul Huda khususnya hal-hal yang berkaitan dengan masalah kegiatan PMR Putri.
Dalam sarasehan singkat yang dipimpin oleh dewan pembina itu, didapatkan
keputusan juga bahwa, mulai pertemuan yang akan datang, seluruh fasilitator
diharap telah berada dalam ruangan materi hingga usai pukul 10.00 WIB atau
maksimal pukul 10.30 WIB. Adapun materi yang harus disampaikan menunggu
informasi setelah agenda rapat kurikulum terlaksana dengan tanpa kendala.
Sarasehan
singkatpun diakhiri. Seluruh fasilitator diarahkan untuk masuk ruangan,
didampingi oleh beberapa pengurus PMR. Sementara itu, pengurus harian PMR
beserta koordinator bidang tetap berada di ruangan guna mengikuti musyawarah
kurikulum bersama dengan dewan pelatih PMI Ponorogo, yakni Bapak Sukadi. Dalam
sambutan awalnya, bapak Sukadi menyampaikan bahwa peserta terbanyak
ekstrakulikuler PMR se-Kabupaten Ponorogo adalah PMR Darul Huda. Bahkan, yang
lebih membanggakan lagi, dari sekian lembaga pendidikan yang ada, baru PMR
Darul Huda yang mengadakan rapat kurikulum pelaksanaan kegiatan PMR. Keaktifan
konsultasi pihak pengurus PMR sekolah inilah yang sangat diharapkan oleh ayah 2
anak itu. Selain itu, dalam uraiannya, beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan
ekstrakurikuler sekolah yang memilik kurikulum yang jelas hanya kegiatan PMR di
bawah naungan PMI. Hal yang lebih membanggakan lagi, PMI ponorogo belum lama
ini mendapatkan predikat dari provinsi sebagai kota dengan kurikulum terbaik serta
pemilik standard kaos dan KTA (Kartu Tanda Anggota) yang benar. Lebih jauh,
beliau juga menuturkan bahwa PMR memiliki 7 standard kompetensi dalam rentan
waktu 138 jam pelajaran. Beikut 7 standard kompetensi yang seyogyanya tuntas
dalam ekstra PMR:
- Materi pertolongan pertama ketentuan waktu 48 jam
- Kesehatan remaja ketentuan waktu 20 jam
- Gerakan palang merah remaja ketentuan waktu 16 jam
- Kepemimpinan ketentuan waktu 16 jam
- Ayo siaga bencana ketentuan waktu 12 jam
- Sanitasi kesehatan ketentuan waktu 16 jam
- Donor darah ketentuan waktu 10 Jam
Dari sekian standard kompetensi itu, priorotas
utama adalah pada Pertolongan Pertama (PP). Sementara itu, melihat kondisi
pondok pesantren Darul Huda yang kurang memungkinkan untuk penyampaian materi,
pengurus diberi draf kurikulum yang selanjutnya diberi izin untuk menyusun
sendiri kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi serta sesuai dengan skala
prioritas yang ingin dicapai dari kegiatan.
Tak
terasa, obrolan ringan itu mengantar kami hingga pukul 10.30 hingga beberapa
fasilitator telah keluar dari ruangan. Sementara bapak Sukadi juga sudah mulai
untuk memohon izin untuk diri, lantaran ada kegiatan di tempat lain. Dewan
fasilitator dikumpulkan sendiri di ruangan yang berbeda, hal ini lantaran ada
beberapa hal yang masih perlu dibicarakan dengan dewan pembina. Tak berselang
lama setelah itu, Bapak Sukadi memohon untuk undur diri terlebih dahulu,
sementara dewan fasilitator masih asyik bercengkrama dengan beberapa pengurus
PMR putri. Pertemuan perdana dengan para fasilitator hari itu sangat memuaskan
hati kami, terlebih rapat kurikulum dengan pelatih juga sukses diadakan.
Tak
berselang lama, dewan fasilitator juga ikut undur diri. Dari guratan wajah
mereka, tampak jelas bahwa mereka sedang berbahagia. Entah, mungkin lantaran
merasa nyaman dengan pelaksanaan kegiatan hari ini atau mereka merasa bangga memiliki
sahabat baru dalam ikatan kegiatan ekstra PMR Putri Darul Huda. Kini, seluruh
kegiatan itu telah usai, para pengurus masih harus berkumpul untuk mengadakan rapat
evaluasi, hingga waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB. Setelah dewan pembina undur
diri, seluruh pengurus dengan cekatan menata kembali ruang yang telah
digunakan, hingga adzan Jum’at sayu-sayu tedengar dari Masjid Pesantren kami. Sungguh,
hanya ada kebahagiaan dan kebanggan di hati kami atas berjalan lancarnya
kegiatan hari ini. Sama bangganya dengan kami yang belajar bersama di PMR Putri
Darul Huda; di mana kami berusaha mengabdikan diri.
Ponorogo, 01 Nopember 2013
Pengurus PMR Pi DH
Ponorogo, 01 Nopember 2013
Pengurus PMR Pi DH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar