Rabu, 29 Januari 2014

Rapat Kurikulum bersama Pelatih PMI Ponorogo



Pagi ini; Jum’at 1 November 2013, harumnya udara masih sempat kuhirup segar. Cercahan matahari tak terlalu panas menyinari bumi, hingga aku mengira tak akan ada hujan di Jum’at pagi ini. Tak seperti hari-hari sebelumnya, panas mentari tampak kuat menusuk tajam di halaman madrasah kami; Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, kendatipun masih pukul 06 pagi.
Sejak pagi ini, pengurus PMR Putri sudah banyak yang tersibukkan dengan pembagian tugasnya; mulai dari yang menyiapkan tempat apel, menata ruangan untuk rapat hingga mencari konsumsi ke luar pondok. Memang, rencana pagi ini adalah rapat kurikulum beserta penyampaian materi oleh para fasilitator.

Sejatinya, rancangan awal pengurus, rapat kurikulum diadakan pada hari Jum’at, 25 Oktober 2013, namun ternyata hari itu bersamaan dengan pelatihan para fasilitator di telaga Ngebel Ponorogo, sehingga rapat pun harus ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Namun demikian, beberapa hari setelah pelaksanaan pelatihan yang diadakan oleh PMI Ponorogo itu; tepatnya pada hari Senin, 28 Oktober 2013, ketua PMR beserta sekretaris berkonsultasi ulang kepada pihak PMI yang kebetulan bertemu langsung dengan ketua PMI sekaligus satu-satunya pelatih PMI Ponorogo yang biasa akrab disapa Pak Kadi. Menurut keterangan beliau, Insya Allah rapat kurikulum benar-benar dapat diadakan pada hari Jum’at, 01 Nopember 2013 bersamaan dengan masuk perdana para fasilitator.
***
Pukul 07.30 tepat rupanya seluruh peserta telah siap mengikuti apel pagi, tanpa satu pun peserta yang datang terlambat. Sungguh, wujud suatu kesemangatan yang luar biasa dalam menimba ilmu. Memang, sebelum masuk ruangan, agenda pagi ini adalah apel yang bertempat di belakang gedung Marwah
. Ada satu kendala yang sempat dilalui oleh para pengurus sesaat sebelum apel dilaksanakan, yakni belum ditemukannya penyangga micropon untuk sambutan pembina, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Namun demikian, setelah daya upaya difungsikan, solusipun akhirnya ditemukan, yakni dengan meminjam penyangga mic kepada pengurus OSIS putra MA Darul Huda.
Sementara itu, dalam sambutannya, ibu pembina yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadzah Eri Susanti menyampaikan bahwa, ilmu yang ada di PMR adalah ilmu yang sangat dibutuhkan saat sudah terjun di lingkungan masyarakat nantinya, khususnya saat terjadi musibah dadakan. Sebut saja diantaranya adalah saat ada musibah kecelakaan dadakan, kebakaran, gempa bumi, tanah longsor dan lain sebagainya. Saat terjadi musibah kecelakaan misalnya, seorang anggota PMR melalui ilmu yang sudah dimilikinya akan tahu, bagaimana cara memberikan pertolongan pertama yang tepat sebelum korban sampai ke tangan seorang ahli medis atau dokter. Tentu saja, seandainya telah diketahui bahwa korban mengalami patah tulang, kemudian penolong tidak mengerti tentang cara memberikan pertolongan pertama, korban akan semakin berada dalam kondisi yang parah sebelum sampai ke tangan seorang dokter. Sedari itu, beliau menghimbau kepada seluruh peserta untuk tidak hanya setelangah hati dalam mengikuti kegiatan pelatihan PMR yang diadakan oleh pengurus setiap 2 minggu sekali itu.
Pukul 07.30 tepat rupanya seluruh peserta telah siap mengikuti apel pagi, tanpa satu pun peserta yang datang terlambat. Sungguh, wujud suatu kesemangatan yang luar biasa dalam menimba ilmu. Memang, sebelum masuk ruangan, agenda pagi ini adalah apel yang bertempat di belakang gedung Marwah Tak berselang lama, akhirnya rombongan fasilitator bersama bapak Sukadi tiba di tempat. Pengurus PMR yang bertugas menanti kedatangan rombongan itu segera menunjukkan lokasi rapat yang telah direncakan. Ada suatu kebanggaan tersendiri dari kegiatan PMR tahun ini, yakni pengurus diberi izin untuk mengahadirkan fasilitator lebih dari 2 orang. Adapun tahun lalu, fasilitator yang dapat dihadirkan hanya berjumlah 2 orang, bahkan terkadang satu orang, padahal jumlah peserta sekitar 100 orang. Berbeda jauh dengan tahun ini, yakni pengurus PMR putri sanggup mendatangkan 6 fasilitator sekaligus, sementara jumlah peserta adalah 171 orang. Jadi setiap sekitar 30 orang dapat belajar dengan intensif kepada 1 orang fasilitator. Terlbih, seluruh fasilitator yang dihadirkan tahun ini kesemuanya adalah perempuan, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan, khususnya saat praktek, peserta tidak akan canggung-canggung lantaran sesama perempuannya. Tentu saja berbeda dengan tahun lalu yang semua failitator berjenis kelamin laki-laki. Berikut nama-nama fasilitator yang telah menyatakan diri sanggup mendampingi pelatihan PMR hingga setahun mendatang:


  1. Inna Yety Octavia
  2. Alif Fridayati
  3. Rizky Ekasari 
  4. Surani Rusmiati 
  5. Noor Faizatul Fitri 
  6. Emy Silvia M.


Usai para fasilitator berkumpul di ruangan bersama dengan para pengurus PMR Putri beserta dewan pembina, agenda sarasehan singkatpun dimulai. Dalam sarasehan itu, para fasilitator diperkenalkan dengan kondisi kegiatan di Pondok Pesantren Dareul Huda khususnya hal-hal yang berkaitan dengan masalah kegiatan PMR Putri. Dalam sarasehan singkat yang dipimpin oleh dewan pembina itu, didapatkan keputusan juga bahwa, mulai pertemuan yang akan datang, seluruh fasilitator diharap telah berada dalam ruangan materi hingga usai pukul 10.00 WIB atau maksimal pukul 10.30 WIB. Adapun materi yang harus disampaikan menunggu informasi setelah agenda rapat kurikulum terlaksana dengan tanpa kendala.
Sarasehan singkatpun diakhiri. Seluruh fasilitator diarahkan untuk masuk ruangan, didampingi oleh beberapa pengurus PMR. Sementara itu, pengurus harian PMR beserta koordinator bidang tetap berada di ruangan guna mengikuti musyawarah kurikulum bersama dengan dewan pelatih PMI Ponorogo, yakni Bapak Sukadi. Dalam sambutan awalnya, bapak Sukadi menyampaikan bahwa peserta terbanyak ekstrakulikuler PMR se-Kabupaten Ponorogo adalah PMR Darul Huda. Bahkan, yang lebih membanggakan lagi, dari sekian lembaga pendidikan yang ada, baru PMR Darul Huda yang mengadakan rapat kurikulum pelaksanaan kegiatan PMR. Keaktifan konsultasi pihak pengurus PMR sekolah inilah yang sangat diharapkan oleh ayah 2 anak itu. Selain itu, dalam uraiannya, beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang memilik kurikulum yang jelas hanya kegiatan PMR di bawah naungan PMI. Hal yang lebih membanggakan lagi, PMI ponorogo belum lama ini mendapatkan predikat dari provinsi sebagai kota dengan kurikulum terbaik serta pemilik standard kaos dan KTA (Kartu Tanda Anggota) yang benar. Lebih jauh, beliau juga menuturkan bahwa PMR memiliki 7 standard kompetensi dalam rentan waktu 138 jam pelajaran. Beikut 7 standard kompetensi yang seyogyanya tuntas dalam ekstra PMR:
  1. Materi pertolongan pertama ketentuan  waktu 48 jam
  2. Kesehatan remaja ketentuan waktu 20 jam 
  3. Gerakan palang merah remaja ketentuan waktu 16 jam
  4. Kepemimpinan ketentuan waktu 16 jam
  5. Ayo siaga bencana ketentuan waktu 12 jam             
  6. Sanitasi kesehatan ketentuan waktu 16 jam
  7. Donor darah ketentuan waktu 10 Jam
 Dari sekian standard kompetensi itu, priorotas utama adalah pada Pertolongan Pertama (PP). Sementara itu, melihat kondisi pondok pesantren Darul Huda yang kurang memungkinkan untuk penyampaian materi, pengurus diberi draf kurikulum yang selanjutnya diberi izin untuk menyusun sendiri kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi serta sesuai dengan skala prioritas yang ingin dicapai dari kegiatan.
Tak terasa, obrolan ringan itu mengantar kami hingga pukul 10.30 hingga beberapa fasilitator telah keluar dari ruangan. Sementara bapak Sukadi juga sudah mulai untuk memohon izin untuk diri, lantaran ada kegiatan di tempat lain. Dewan fasilitator dikumpulkan sendiri di ruangan yang berbeda, hal ini lantaran ada beberapa hal yang masih perlu dibicarakan dengan dewan pembina. Tak berselang lama setelah itu, Bapak Sukadi memohon untuk undur diri terlebih dahulu, sementara dewan fasilitator masih asyik bercengkrama dengan beberapa pengurus PMR putri. Pertemuan perdana dengan para fasilitator hari itu sangat memuaskan hati kami, terlebih rapat kurikulum dengan pelatih juga sukses diadakan.
Tak berselang lama, dewan fasilitator juga ikut undur diri. Dari guratan wajah mereka, tampak jelas bahwa mereka sedang berbahagia. Entah, mungkin lantaran merasa nyaman dengan pelaksanaan kegiatan hari ini atau mereka merasa bangga memiliki sahabat baru dalam ikatan kegiatan ekstra PMR Putri Darul Huda. Kini, seluruh kegiatan itu telah usai, para pengurus masih harus berkumpul untuk mengadakan rapat evaluasi, hingga waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB. Setelah dewan pembina undur diri, seluruh pengurus dengan cekatan menata kembali ruang yang telah digunakan, hingga adzan Jum’at sayu-sayu tedengar dari Masjid Pesantren kami. Sungguh, hanya ada kebahagiaan dan kebanggan di hati kami atas berjalan lancarnya kegiatan hari ini. Sama bangganya dengan kami yang belajar bersama di PMR Putri Darul Huda; di mana kami berusaha mengabdikan diri. 
Ponorogo, 01 Nopember 2013


Pengurus PMR Pi DH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar