Rabu, 05 Maret 2014

Membuat Lahan Penanaman Toga

Pagi itu, Jum’at, 7 Februari 2014 agenda kami adalah menyiapkan lahan untuk penanaman tanaman obat keluarga yang sedianya kami laksanakan pada Jum’at yang akan datang, bertepatan dengan pelaksanaan UPA (Ujian Penempuhan Atribut) PMR Putri Darul Huda.  
Denting jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Beberapa pengurus PMR PI mulai datang satu persatu ke area yang telah ditentukan, yakni barat ruang kelas selatan aula putri (Gedung Shofa). Sayangnya, rekan pengurus yang sanggup kerja bakti pagi itu hanya sedikit. Kebanyakan dari mereka sedang keluar pondok untuk mencari hal-hal yang memang dibutuhkan dan sebagian yang lain sedang dijenguk oleh orang tuanya, sebagaimana biasanya, hari Jum’at adalah surganya sambang bagi rekan-rekan santri putri.
Dengan cekatannya kami membagi 2 crew pagi itu. Crew pertama bagian pembersihan lahan yang akan dibut cocok taman dari bebatuan dan crew yang kedua bagian pengambil paving persegi empat. Seperti biasa, pagi itu kami bergotong royong sambil bercada satu sama lain. Sembari bercanda, satu persatu bebatuan telah kami singkirkan, petak-petak paving juga telah kami tata di area seukuran 8mx1m itu. Meunurut penuturan pembimbing kami; Mb Ika, tanah akan datang sore hari itu juga. Tanah yang didatangkan langsung dari pekarangan kebun beliau itu sedianya akan diagkut dengan menggunakan mobil pick up. Bahkan sedianya juga sekaligus dibawakan pupuk kandang sekalian beberapa bibit tetumbuhan yang biasa digunakan sebagai obat, semisal kunyit, jahe dan semisalnya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Pembimbing utama kami, sekaligus pembimbing tercinta kami tiba-tiba datag mengecek pelaksanaan penyiapan lahan waktu itu. Beliau datang dengan menggunakan sepeda motor kawasaki merah milik pondok. Gayanya yang khas selalu membuat kami tersenyum bangga. Beliau adalah pembimbing tertua kami, dan mungkin pembimbing yang paling kami citai. Melihat pakaian yang beliau pakai, kami tahu bahwa beliau tadi masih harus menguji paper rekan-rekan kelas XII Aliyah, sehingga tidak bisa membantu kami menyiapkan lahan penaaman TOGA. Namun kami sudah merasa cukup bangga dengan support dan kehadiran beliau, karena bagi kami arahan beliau sangat membantu kemajuan PMR ini.
Kendatipun acara penanaman lahan telah usai, kami tak langsung beranjak pulang. Kami masih menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan beliau. Tawa dan cada selalu menghiasi kebersamaan kami manakalah di tengah-tengah kami ada beliau. Lagi-lagi beliau selalu membuat lelucon untuk sekedar membuat kami tertawa lepas. Banyak sekali hal yang kami bicarakan waktu itu, mulai dari persiapan matang pelaksanaan penanaman, persiapan renungan malam hingga persiapan pendelegasian lomba di Akper yang sedianya dilaksanakan akhir bulan Februari ini. Hingga benar-benar tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB, itu tandanya beliau memag harus undur diri guna melaksanakan sholat Jum’at.
*Tanah dari Pulung pun tiba di tempat
Jam dinding telah menujukkan pukul 14.45 WIB. Tak kami duga-duga, tanah untuk penanaman yang harusnya tiba pukul 15.00 WIB rupa-rupanya telah nyampek tempat lebih awal. Mb Ika langsung mengrahkan ayahnya ke lokasi di mana pagi tadi kami menyiapkan lahan. Memang, tanah itu berasal dari pekarangan belakang rumah beliau. Sore itu, beliau tak sendiri. Tanah satu mobil penuh itu dinaikkan ke bak oleh rekan-rekan mahasiswa Unmuh yang sedang melaksanakan KPM (Kuliyah Pegabdian Masyarakat) di sana. Mereka pulalah yang dimintai tolong untuk menurukannya dari bak mobil ke area yang telah kami persiapkan untuk kegiatan penanaman. Beberapa dari pengurus harus lari tunggang langgang agar mampu menjamu mereka. Beberapa diantaranya diberi tugas untuk membeli kosumsi, beberapa yang lain membuatkan wedang kopi dan beberapa yang lain mendapatkan tugas membuat miuman dingin.
Benar juga. Satu mobil pik up itu penuh berisi tanah pekarangan. Tak hanya itu, Pak Boirin (Ayahanda dari Mb Ika) rupa-rupanya benar-benar membawakan pupuk kandang kering untuk kami. Tak hanya pupuk kering, beliau juga membawakan beberapa tanaman yang biasa difungsikan sebagai obat oleh orang-orang desa. Semua itu beliau berikan secara gratis, hanya saja harus megganti ongkos sewa mobil sebesar Rp, 150.000,-
Usai semua tanah diturunkan dan rombogan itu pulang, kami segera meneruskan gotong royong. Tanah yang masih terkumpul di area sisi selatan harus kami ratakan ke sisi bagian utara. Tak lupa, pupuk kandang juga ikut kami urai tipis di atas permukaan tanah yang telah kami ratakan. Tak cukup di situ, beberapa bibit yang telah tersedia juga segera kami tanam, khawatir keburu layu oleh waktu. Sore itu dengan semangat kami menyiapkan lahan dan melalukan penanaman. Tawa canda kami sesekali menghangatkan keadaan. Bagi kami, kebersamaan ini mampu menghilangkan peluh air mata dan mampu membuat kami semangat untuk menjadi lebih baik.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Latunan nada do’a untuk pelaksanaan sholat ashar telah bergema di aula. Namun kerja bakti kami belum selesai sepenuhnya. Kami pun terus berkerja hingga titik terakhir keringat yang memang harus menetes dari dahi kami.
Senja sore telah menyapa. Kebersamaan kami seharian penuh ini menunjukkan bahwa, kami tidak hanya mampu berpikir, namun kami juga mampu berbuat. Bagi kami, banyak berpikir saja tak cukup. Cita-cita tinggi memang harus disertai dengan usaha semaksimal mungkin. Sungguh! Tak kami nyana, kebersamaan kami sehari ini mampu membuat kami lupa akan segalanya, bahkan kami lupa kepada nama kami sendiri. Yang kami ingat hanya satu, My name is PMR Putri Darul Huda. Wish me Luck!
Ponorogo, 08 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar